Minggu, 27 November 2016

Contoh Analisis Jurnal

Analisis JURNAL


ANALISIS JURNAL
EKOLOGI PANGAN DAN GIZI
FAKTOR RISIKO TERHADAP KEJADIAN BALITA PENDEK MENURUT INDEKS ANTROPOMETRI TB/U

Peran Konseptual Terhadap Kejadian Balita Pendek di Indonesia








                                                                         

Oleh :
KELOMPOK IX

LIA ANGGRAINI                                    I1A114026








PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2016
BAB I
JURNAL ASLI





























BAB II
ANALISIS JURNAL
A.    Analisis Mendalam
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama (1).
Tinggi badan merupakan salah satu pengukuran tubuh manusia yang mengukur jarak maksimum dari vertex (puncak kepala) sampai telapak kaki (Wiyono et al., 2011). Tinggi badan bisa juga diartikan jarak yang diambil dari vertex (puncak kepala) menuju lantai dengan posisi anatomis dan kepala sejajar dataran frankfurt (Zeybek et al, 2008). Sedangkan menurut Snell dalam Ismurrizal (2011), tinggi badan didefinisikan sebagai hasil pengukuran maksimum panjang tulang-tulang dalam tubuh yang membentuk poros tubuh (The Body Axis), yang diukur dari titik tertinggi kepala yang disebut vertex (puncak kepala) ke titik terendah dari tulang kalkaneus (tuberositas calcanei) yang disebut heel (2).
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun  sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun (Depkes RI, 2004) (3)
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk  menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indicator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi  tubuh (M.Khumaidi, 1994) (3).
Stunting adalah perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama. Stunting pada usia balita biasanya kurang disadari karena perbedaan dengan anak yang tinggi badannya normal tidak terlalu tampak. Stunting baru disadari setelah anak memasuki usia pubertas atau remaja. Hal ini merugikan karena semakin terlambat disadari, semakin sulit mengatasi stunting (4).
Stunting (tubuh pendek) merupakan keadaan dimana tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisi -2 standar deviasi (SD) dibawah median panjang atau tinggi yang menjadi referensi internasional. Prevalensi stunting (TB/U) lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi kejadian underweight atau gizi buruk (BB/U) (19,6 %) dan prevalensi kejadian wasting atau kurus (BB/TB) (5,3 %). Pada anak balita di Indonesia (5,6).
Jadi, stunting adalah gangguan pertumbuhan fisik berupa penurunan kecepatan pertumbuhan dalam perkembangan manusia yang merupakan dampak utama dari kekurangan gizi atau ketidakseimbangan faktor-faktor pertumbuhan baik faktor internal maupun faktor eksternal. Stunting dapat ditentukan dengan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dibandingkan dengan baku rujukan WHO child growth standard. Skor Z TB/U kurang dari -2 SD mengindikasikan anak mengalami stunting yang merupakan dampak dari ketidakmampuan anak dalam mencapai pertumbuhan linear potensialnya (7).








Gambar 1. Kecenderungan prevalensi status gizi TB/U <-2 SD menurut provinsi, Indonesia 2007, 2010, dan 2013
Berdasarkan data World Health Statistics 2012, didapatkan bahwa prevalensi stunting di dunia sebesar 26.7%. Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan masalah stunting/pendek pada balita masih cukup serius, angka nasional 37,2 %, bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Hasil ini memperlihatkan bahwa lebih dari sepertiga anak balita Indonesia adalah stunting. Terdapat 20 provinsi diatas prevalensi nasional dengan urutan dari prevalensi tertinggi sampai terendah, yaitu: (1) Nusa Tenggara Timur, (2) Sulawesi Barat, (3) Nusa Tenggara Barat, (4) Papua Barat, (5) Kalimantan Selatan, (6) Lampung, (7) Sulawesi Tenggara, (8) Sumatera Utara, (9) Aceh, (10) Kalimantan Tengah, (11) Maluku Utara, (12) Sulawesi Tengah, (13) Sulawesi Selatan, (14) Maluku, (15) Papua, (16) Bengkulu, (17) Sumatera Barat, (18) Gorontalo, (19) Kalimantan Barat dan (20) Jambi (6,8).
Sedangkan menurut hasil riset kesehatan dasar provinsi Kalimantan Selatan tahun 2007, tabel  menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek (9).










 
















Gambar 2. Prevalensi balita menurut status gizi (TB/U)* dan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan, Riskesdas 2007.

Prevalensi masalah kependekan pada balita di Provinsi Kalimantan Selatan masih tinggi yaitu sebesar 41,8% (27,8-50,4%). Sebagian besar kabupaten/kota (8 dari 13) yang memiliki prevalensi masalah kependekan di atas angka provinsi adalah Tanah laut, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan Balangan (9).
Dampak yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting diantaranya anak stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun. Akibat jangka panjang yang ditimbulkan adalah terganggunya perkembangan fisik, mental, kognitif dan intelektual sehingga anak tidak mampu belajar secara optimal. Anak stunting mempunyai kemampuan kognitif yang rendah dan meningkatkan risiko kematian. Anak stunting pada usia lima tahun cenderung tidak dapat diperbaiki sehingga akan berlanjut sampai dewasa. Wanita dewasa yang stunting berisiko melahirkan anak dengan BBLR (7).
Dari penelitian yang dilakukan oleh Fitrah Emawati, et al tahun 2014 menyebutkan bahwa hasil penelitian yang dihimpun oleh World Bank 2006 menunjukkan bahwa dampak stunting pada balita mengakibatkan penurunan IQ usia sekolah sebesar 10-15% (6,7).
Gangguan pertumbuhan linier (stunting) akan berdampak terhadap pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan produktivitas. Masalah gizi kurang jika tidak ditangani akan menimbulkan masalah yang lebih besar, bangsa Indonesia dapat mengalami lost generation (11).
Selain itu dampak stunting tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya, tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomi­an dan pembangunan bangsa. Hal ini karena sum­ber daya manusia stunting memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan dengan sumber daya manusia normal (12).
Penyebab stunting sangat beragam dan kompleks, namun secara umum dikategorikan menjadi tiga faktor yaitu faktor dasar (basic factors) seperti ekonomi, sosial,dan politik, faktor yang mendasari (underlying factors) seperti faktor keluarga, pelayanan kesehatan, dan faktor dekat (immediate factors) seperti faktor diet dan kesehatan. Faktor keluarga seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi sosial ekonomi, dan jumlah anak dalam keluarga merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Kondisi lingkungan di dalam maupun di sekitar rumah juga dapat mempengaruhi terjadinya stunting. Lingkungan yang kotor dan banyak polusi menyebabkan anak mudah sakit sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya (5,12).
Dampak yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting diantaranya anak stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun. Akibat jangka panjang yang ditimbulkan adalah terganggunya perkembangan fisik, mental, kognitif dan intelektual sehingga anak tidak mampu belajar secara optimal. Anak stunting mempunyai kemampuan kognitif yang rendah dan meningkatkan risiko kematian. Anak stunting pada usia lima tahun cenderung tidak dapat diperbaiki sehingga akan berlanjut sampai dewasa. Wanita dewasa yang stunting berisiko melahirkan anak dengan BBLR (7,12).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab dari level individu, rumah tangga, dan provinsi terhadap kejadian balita pendek di Indonesia.
Pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data tersier. Data sekunder bersumber dari data Riskesdas 2010. Sedangkan data tersier didapat dari laporan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM), serta data kemiskinan dari Biro Pusat Statistik. Sampel minimal yang harus dipenuhi dihitung dengan rumus uji hipotesis beda 2 proporsi. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Dengan menggunakan confidence level 95%, absolute precision required 5%, estimasi balita stunting 36,8%, efek desain 2, maka jumlah sampel menjadi 4364 balita. Confidence level 95% yang berarti peneliti yakin bahwa 95% penduga sample berada dalam selang interval untuk parameter populasi.
Variabel terikat balita pendek dibagi 2 kategori: balita pendek bila < - 2 SD dan tidak pendek bila ≥ 2 SD. Masing-masing variabel bebas dibagi 2 kategori. Pada level individu/balita ada 2 variabel, yaitu ‘konsumsi energi’ dan ‘penyakit infeksi’. Konsumsi energi dikatakan ‘cukup’ bila Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) ≥ 100 % dan ‘kurang’ bila AKG < 100 %. Penyakit infeksi di sini hanya malaria, dengan pilihan isi: ‘pernah’ dan ‘tidak pernah’ sakit malaria dalam satu tahun terakhir. Pada level rumah tangga, ada variabel akses pelayanan kesehatan, sanitasi, status ekonomi, jumlah anggota rumah tangga (ART), tingkat pendidikan, status pangan rumah tangga (RT), pol asuh, dan riwayat stunted ibu. Akses pelayanan kesehatan dibagi menjadi ‘terjangkau’ dan ‘tidak terjangkau’. Sanitasi dikatakan ‘baik’ bila ‘seluruh komposit baik’ dan ‘kurang’ bila ‘salah satu komposit tidak baik’. Status ekonomi ‘rendah’ bila ≤ Rp 111.285 dan ‘cukup’ bila > Rp 111.285. Jumlah ART ‘cukup’ bila ≤ 4 orang dan ‘banyak’ bila > 4 orang. Tingkat pendidikan ibu ‘cukup’ bila tamat SLTP ke atas dan ‘kurang’ bila tidak tamat SLTP ke bawah. Status pangan RT ‘cukup’ bila %tase kecukupan energi total ART ≥ 90% dan ‘defisit’ bila %tase kecukupan energi total ART < 90%.
Sedangkan untuk riwayat stunted ibu ‘cukup’ bila tinggi badan (TB) ibu ≥ nilai rata-rata dan ‘kurang’ bila TB ibu < nilai rata-rata. Pada level provinsi, ada variabel IPKM, IPM, status rawan pangan, dan kemiskinan. IPKM ‘cukup’ bila ≥ angka nasional dan ‘kurang’ bila < angka nasional. IPM ‘cukup’ bila ≥ 70,59 dan ‘kurang’ bila < 70,59. Kemiskinan dikatakan ‘rendah’ bila < rata-rata nasional dan ‘cukup’ bila ≥ rata-rata nasional (13).
Untuk mengetahui apakah setiap level mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek, maka digunakan analisis multilevel dan karena semua variabel dikompositkan menjadi 2 kategori, maka digunakan analisis multilevel regresi logistic binary (13).
Menurut Hosmer dan Lemeshow, 1989 analisis regresi logistik adalah suatu metode statistik yang digunakan untuk mendeskripsikan hubungan antara variabel respon (variabel tak bebas) yang terdiri dari dua kategori (dikotomik) atau lebih (polikotomik) dengan variabel penjelas (variabel bebas) yang berskala kategorik atau pun numerik. Kategori biner variabel respon antara lain menyatakan kejadian ‘sukses’ (Y=1) dan kejadian ‘gagal’ (Y=0), dan variabel respon diasumsikan berdistribusi Bernuolli. Model regresi logistik menggunakan transformasi logit. Pada model ini, yang diregresikan adalah peluang variabel respon bernilai ‘sukses’ (Y=1) (13).
Kelebihan analisis multilevel regresi logistic binary adalah dapat melihat faktor penyebab masalah berdasarkan tingkat atau level dalam satu analisis. Sementara dalam analisis multivariat lain, misalnya regresi logistik atau linier, tidak bisa menganalisis berdasarkan tingkatan/level. Contohnya, penyebab pada tingkat rumah tangga dan tingkat individu/balita dianggap satu level, terhadap kejadian balita pendek. Padahal konteks penyebab pada tingkat rumah tangga dan individu/balita merupakan faktor yang berbeda tingkatan/level. Dalam analisis digunakan program/software supermix dan SPSS versi 17 (14).
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Balita
Karakteristik balita dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu balita pendek, konsumsi energi, dan penyakit infeksi malaria. Untuk kategori balita pendek tebagi menjadi tidak pendek dan pendek, kategori konsumsi energi tegbagi menjadi diatas rata-rata dan dibawah rata-rata, dan kategori penyakit infeksi (malaria) terbagi menjadi tidak ada dan ada.
Pada tabel 1 didapatkan bahwa proporsi balita pendek berjumlah 4403 atau sebesar 44,5%. Sedangkan konsumsi energi balita jika dilihat pada tabel 1 tergolong diatas rata-rata yaitu berjumlah 5998 atau sebesar 60,6% dan yang tergolong dibawah rata-rata berjumlah 3899 atau sebesar 39,4%. Untuk kategori penyakit infeksi (malaria), sebagian besar sampel dalam kondisi tidak terdapat penyakit infeksi (malaria) yaitu berjumlah 9639 atau sebesar 97,4%, sedangkan hanya terdapat sebagian kecil saja yang menderita penyakit infeksi (malaria) yaitu berjumlah 258 atau sebsesar 2,6%.
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Rumah Tangga
Karakteristik rumah tangga dibagi menjadi 7 (tujuh) kategori yaitu konsumsi energi (diatas rata-rata dan dibawah rata-rata), pola asuh (baik dan kurang baik), status ekonomi (cukup dan kurang), pendidikan ibu (cukup dan kurang), ibu pendek (tidak pendek dan pendek), status akses pelayanan kesehatan (baik dan kurang baik), serta keadaan sanitasi (baik dan kurang baik).
Pada tabel 2 didapatkan bahwa konsumsi energi rumah tangga berada dalam posisi diatas rata-rata kecukupan yaitu sebesar 54,9%, namun masih ada yang berada dibawah rata-rata yaitu sebesar 45,1%.
Sedangkan pada kategori pola asuh, sebagian besar rumah tangga melakukan pola asuh yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan karena pada tabel dapat dilihat bahwa rumah tangga yang menjalani pola asuh baik hanya sebesar 1,9% saja, dan sisanya menjalani pola asuh yang kurang baik yaitu sebesar 98,1%. Pola asuh makan merupakan praktek-praktek pengasuhan yang diterapkan oleh ibu kepada anak yang berkaitan dengan pemberian makan (Karyadi 1985). Pola asuh makan mempunyai peranan yang sangat besar dalam asupan gizi anak. Praktek pemberian makan yang dapat mempengaruhi konsumsi makanan  terdiri dari: (1) pemberian makan yang sesuai umur dan kemampuan anak, (2)  kepekaan ibu atau pengasuh mengetahui waktu makan anak, (3) upaya  menumbuhkan nafsu makan anak, (4) menciptakan situasi makan yang baik  seperti memberikan rasa nyaman, (5) kuantitas dan kualitas makanan serta (6)  cara penyajian dan pemberian makan yang benar (WHO 1998, diacu dalam Anugra 2004) (15).
Untuk status ekonomi rumah tangga, sebagian besar rumah tangga memiliki status ekonomi yang cukup yaitu sebesar 86,6% dan sisanya sebanyak 13,4% rumah tangga memiliki status ekonomi yang kurang.
Berdasarkan tabel 2, pendidikan ibu sebagian besar ibu memiliki pendidikan yang cukup yaitu sejumlah 57,3% dan hanya 42,7% yang berada pada tingkat pendidikan kurang.
Sedangkan untuk %tase ibu pendek ternyata sebagian besar ibu memiliki tinggi pada yang pendek yaitu sebesar 5139 atau 51,9% da hanya 48,1% ibu yang memiliki tinggi badan tidak pendek.
Pada tabel tersebut juga didapatkan bahwa status akses pelayanan kesehatan sudah termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 80,7% dan hanya 19,3% saja yang berada dalam status akses pelayanan kurang baik.
Sedangkan sanitasi di tempat tinggal sampel sebagian besar kurang baik yaitu sebesar 86,8% dan yang termasuk baik hanya 13,2% saja.
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Provinsi
Karakteristik provinsi memiliki 3 (tiga) kategori yaitu IPKM (cukup dan kurang), IPM (cukup dan kurang), serta %tase keluarga miskin (dibawah rata-rata dan diatas rata-rata). Berdasarkan tabel 3 distribusi sampel berdasarkan karakteristik provinsi bahwa sebanyak 29,3% sampel tinggak di provinsi dengan IPKM yang cukup, sedangkan sisanya sebanyak 70,7% sampel tinggal di provinsi dengan IPKM yang masih kurang.
Hal yang sama juga bila dilihat berdasarkan status IPM bahwa sampel lebih banyak tinggal pada daerah dengan status IPM kurang yaitu sebesar 63,2%, sedangkan yang tinggal di provinsi dengan IPM yang cukup sedikit lebih rendah yaitu sebesar 36,8%.
Sedangkan untuk %tase keluarga miskin sebagian besar sampel tinggal di provinsi dengan %tase keluarga miskin diatas jumlah rata-rata nasional yaitu sebesar 52,5% dan yang tinggal di provinsi dengan %tase keluarga miskin dibawah rata-rata nasional sebesar 47,5%.
Peran dan Kontribusi Level Individu, Rumah Tangga dan Provinsi terhadap Kejadian Stunted pada Balita
Untuk melihat apakah setiap level berperan terahadap kejadian balita pendek diketahui dengan membandingkan nilai varians di setiap level dari setiap model. Hasil analisis menunjukkan, pada level rumah tangga nilai varians pada model 1 (null model, yaitu model hanya ada variabel stunted) menurun dibandingkan dengan model 2 (0,0248 menurun menjadi 0,0230) pada level 2; begitu pula pada level 3 menurun dari 0,0981 menjadi 0,0838. Artinya, peran level balita cukup bervariasi terhadap kejadian balita pendek.
Tahap selanjutnya adalah menilai apakah rumah tangga berperan terhadap kejadian balita pendek. Hal itu dilihat dari penurunan nilai varians pada model 1 terhadap varians model 3. Hasil analisis diatas tampak, varians pada level 2 dan model 3 lebih kecil dari model 1 (0,0171 dan 0,0248); pada level 3 dari model 1 dibandingkan model 3, nilainya turun (dari 0,0981 menjadi 0,0706). Artinya, level rumah tangga mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek. Pada level rumah tangga analisis ini menunjukkan bahwa konsumsi energi rumah tangga dibawah rata-rata, status ekonomi rumah tangga dan keadaan sanitasi dan pola asuh kurang, riwayat ibu pendek, serta tingkat pendidikan ibu yang kurang merupakan penyebab terjadinya anak.
Untuk melihat peran dari level provinsi terhadap kejadian balita pendek, dilihat dari perubahan nilai varians model 1 terhadap model 4. Hasil analisis diatas tampak, varians level 2 pada model 4 dibandingkan dengan model 1, nilainya turun (dari 0,0248 menjadi 0,0171), dan pada level 3 menurun dari 0,0981 menjadi 0,0576. Artinya, level provinsi mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek.
Level provinsi mempunyai peran terbesar terhadap kejadian balita pendek karena nilai ICC 51,9 %. Artinya, 51,9% terjadi pada level provinsi. Pada variabel level provinsi, hanya kemiskinan. Dengan kata lain, sebanyak 51,9% kejadian balita pendek terjadi karena adanya kemiskinan, kemudian 34,9% disebabkan oleh faktor balita itu sendiri dan 13,2% karena faktor rumah tangga.
Sumbangan provinsi terhadap kejadian balita pendek tertinggi, yakni 51,9%, dibandingkan dengan peran faktor balita dan rumah tangga. Walaupun variabel di tingkat provinsi hanya status kemiskinan, faktor penentu kemiskinan sendiri banyak sekali faktor penyebabnya yang dalam analisis ini tidak diidentifikasi. Perbaikan ekonomi tidak hanya meningkatkan anggaran (budget), tetapi faktor-faktor lain penentu kemiskinan juga perlu diatasi, agar perbaikan ekonomi di tingkat provinsi mempunyai peran besar.
Fit Model pada Level Individu, Rumah Tangga dan Provinsi terhadap Kejadian Stunted pada Balita
Distribusi fit model peran semua level terhadap kejadian balita pendek dapat dilihat pada Tabel 5. Dalam tabel tersebut terlihat bahwa seluruh variabel, baik yang terdapat pada level balita, rumah tangga, dan provinsi, berperan secara bermakna terhadap kejadian balita pendek. Artinya, semua variabel yang ada dalam Tabel 5 tidak ada yang dikeluarkan dari model.
Untuk melihat kontribusi masing-masing variabel terhadap kejadian balita pendek, dilihat nilai AFE (attributable fraction exposure), yakni gambaran proporsi suatu kejadian dalam suatu populasi yang disebabkan faktor risiko.
Besarnya Penurunan Kejadian Stunted pada Balita Bila Faktor Risiko Dihilangkan
Dalam Tabel 6 digambarkan besarnya masing-masing AFE. Dalam Tabel 6 terlihat bahwa ada 1 variabel level individu yang berpengaruh pada kejadian balita pendek, yaitu konsumsi energi balita. Besarnya kontribusi terhadap kejadian stunted sebesar 10%. Pada level rumah tangga, ada 6 variabel yang berkontribusi terhadap kejadian balita pendek, yakni konsumsi energi rumah tangga sebesar 17%, status ekonomi rumah tangga 19%, keadaan sanitasi sebesar 12%, pola asuh sebesar 27%, riwayat ibu pendek 34% dan tingkat pendidikan ibu berkontribusi sebesar 24%.
Pada level provinsi, variabel yang berkontribusi hanya %tase jumlah keluarga miskin pada provinsi, besarnya kontribusi sebesar 14%. Hasil penghitungan penurunan proporsi di level individu tampak, bila konsumsi energi balita dapat tercukupi, maka prevalensi balita pendek dapat turun dari proporsi semula sebesar 44,5 menjadi 42,50%. Pada level rumah tangga, bila kebutuhan energi dalam rumah tangga dapat tercukupi, maka kasus balita pendek akan turun dari 44,5 menjadi 40,80%. Banyak sektor sangat terkait dengan status ekonomi rumah tangga, begitu pula dengan kejadian balita pendek. Bila kita dapat mengatasi kemiskinan dalam rumah tangga, kejadian balita pendek dapat menurun dari 44,5 menjadi 43,15%. Bila sanitasi rumah tangga diperbaiki, proporsi balita pendek dapat turun dari 44,5 menjadi 39,83%. Bila ibu memberikan pola pengasuhan yang lebih baik terhadap anak balitanya, balita pendek dapat menurun dari 44,5 menjadi 32,63%. Bila ibu-ibu balita tidak pendek, proporsi balita pendek dapat menurun dari 44,5 menjadi 35,8%. Dan bila tingkat pendidikan ibu dapat diperbaiki ke tingkat yang lebih baik, maka kejadian balita pendek dapat diturunkan dari 44,5 menjadi 39,42%. Pada level provinsi, bila kemiskinan di tingkat provinsi dapat diperbaiki, maka proporsi balita pendek akan turun dari 44,5 menjadi 41,4%.

B.     Solusi dan Rekomendasi
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fauzi Arasj (2014) bahwa pemberian dadih melalui PMT (200 Kkal dan 5-7 gram protein per porsi) yang mengandung BAL antara 1,3 s/d 1,7 x 107 CFU/Gram sebanyak 6,75 gram/hari selama 3 bulan terbukti memberi dampak lebih baik terhadap perubahan status gizi anak pendek umur 1-4 tahun berdasar nilai skor-z TB/U dibandingkan dengan kelompok tanpa dadih. Dadih merupakan salah satu makanan tradisional Sumatera Barat yang dibuat dari fermentasi alami susu kerbau dibuat berdasarkan industri skala rumah tangga serta dijual secara umum di pekan-pekan, warung dan restoran sebagai salah satu makanan tradisional yang sejak lama sudah menjadi makanan sehari hari bagi masyarakat di Sumatera Barat, terutama untuk kelompok orang dewasa karena dipercaya dapat meningkat stamina tubuh (16).
Jadi, dengan adanya pemberian dadih ini diharapkan bisa menurunkan angka kejadian balita pendek di Indonesia.
Selain itu, pihak pemerintah juga perlu memberikan pemahaman kepada kepala keluarga mengenai dampak stunted, khususnya bagi pasangan usia subur pada saat ibu mengandung agar dapat memeriksa kandungan di posyandu atau puskesmas supaya berat badan janin dapat dikontrol, sehingga tidak melahirkan anak yang BBLR. Serta dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya ASI Eksklusif untuk perkembangan bayi.





























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa level provinsi mempunyai peran kontribusi tertinggi, yaitu sebesar 51,9%, kemudian level individu/balita sebesar 34,9%, dan level rumah tangga sebesar 13,2% terhadap terjadinya balita pendek. Proporsi balita pendek yang ditemukan dalam analisis ini sebesar 44,5% dapat diturunkan, apabila konsumsi energi balita diperbaiki hingga cukup, maka proporsi balita pendek turun menjadi 42,5%. Selain itu bisa juga dengan memperbaiki konsumsi energi rumah tangga, maka proporsi balita pendek turun menjadi 40,8%.
Proporsi balita pendek dapat diturunkan juga apabila status ekonomi rumah tangga diperbaiki, maka proporsi balita pendek turun menjadi 43,2%. Serta memperbaiki pola asuh dalam rumah tangga, maka proporsi balita pendek turun menjadi 32,6%. Bila ibu-ibu balita tidak pendek, maka proporsi balita pendek turun menjadi 35,8%. Bila tingkat pendidikan ibu diperbaiki, maka proporsi balita pendek turun menjadi 39,4%. Bila kemiskinan di tingkat provinsi diperbaiki, maka proporsi balita pendek turun menjadi 41,4%. Hal-hal inilah yang dapat menurunkan proporsi balita pendek di Inonesia.

B.     Saran
Dalam strategi penanganan penurunan proporsi balita pendek penanganan hendaknya lebih diutamakan pada adanya peran dilevel provinsi, kemudian rumah tangga, dan balitanya sendiri. Di level provinsi, perlu adanya upaya perbaikan status kemiskinan, misalnya antara lain menciptakan lapangan kerja bagi yang belum bekerja. Di level rumah tangga, prioritas utama hendaknya memperbaiki pola asuh anak, kemudian memperbaiki tinggi badan ibu-ibu pada generasi berikutnya, meningkatkan tingkat pendidikan ibu, memperbaiki keadaan sanitasi, dan meningkatkan ekonomi rumah tangga. Di level individu/balita, upaya dilakukan dengan meningkatkan dan memperbaiki konsumsi energi anak balita. Perlu kerjasama lintas sektor untuk memperbaiki variabel-variabel terkait, agar proporsi balita pendek turun.
Selain itu juga perlu ditingkatkan penyuluhan tentang makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi serta memenuhi syarat gizi seimbang, pentingnya sanitasi dan higiene yang baik, dan cara memantau pertumbuhan anak secara berkala melalui posyandu.

























DAFTAR PUSTAKA

1.      Eka Riyanti & Lu’ayin. The correlation between nutrient status with growth in toddler age in pekuncen village kroya, cilacap. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, 2008. 4 (2) : 63-71.

2.      Julius Panero & Martin Zelnik. Dimensi manusia dan ruang interior. Jakarta: Erlangga, 2003.

3.      Apriliia Nur Baety et al. Penilaian status gizi pada balita umur 13-60 bulan di desa Bogares Kidul kecamatan Pangkah kabupaten Tegal tahun 2009.

4.      Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 2010. 1 (1) : 42-47.

5.      Aryu Candra. Hubungan underlying factors dengan kejadian stunting pada anak 1-2 th. Journal of Nutrition and Health, 2013. 1 (1) : 1-12.

6.      World Health Statistics, 2012.

7.      Dewi. Kekurangan asupan besi dan seng sebagai faktor penyebab stunting pada anak. Jurnal Profesi, 2013. 10 (1) : 57-61.

8.      Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar, 2013.

9.      Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar Provinsi Kalimantan Selatan, 2007.

10.  Wellem E. P., et al.  Hubungan pengetahuan orang tua tentang gizi dengan stunting pada anak usia 4-5 tahun di TK Malaekat Pelindung Manado. Jurnal Keperawatan, 2013. 1 (1) : 1-6.

11.  Bunga Ch Rosha, et al. Analisis determinan stunting anak 0-23 bulan pada daerah miskin di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jurnal Penelitian Gizi Makan, 2012. 35 (1) : 34-41.

12.  Zilda Oktarina, et al. Faktor risiko stunting pada balita (24-59 bulan) di Sumatera. Jurnal Gizi dan Pangan, 2013. 8 (3) : 175-180.

13.  Sopiyudin Dahlan. Statistic untuk kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika.

14.  Nia Sari & Ratna Wardani. Pengolahan dan analisa data statistic dengan SPSS. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2015.

15.  Dina Rahmawati. Status gizi dan perkembangan anak di taman pendidikan karakter semai benih bangsasutera alam, desa sukamantri, kecamatan tamansari, bogor. Skripsi. Program Studi Gizi Masyarakat Dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, 2006.

16.  Fauzi Arasj. Pengaruh pemberian dadih (susu kerbau terfermentasi) melalui makanan tambahan terhadap status gizi, kejadian diare dan ispa anak pendek (stunted) usia 1-4 tahun. studi dilakukan di kenagarian Kototangah, kecamatan Tilatang Kamang. Jurnal Gizi, 2014. 1 (1).