ANALISIS JURNAL
EKOLOGI
PANGAN DAN GIZI
FAKTOR RISIKO
TERHADAP KEJADIAN BALITA PENDEK MENURUT INDEKS
ANTROPOMETRI TB/U
“Peran Konseptual Terhadap Kejadian Balita Pendek di
Indonesia”
Oleh :
KELOMPOK IX
LIA
ANGGRAINI I1A114026
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016
BAB I
JURNAL ASLI
BAB II
ANALISIS JURNAL
A. Analisis Mendalam
Tinggi
badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal.
Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif
terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi
zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama (1).
Tinggi
badan merupakan salah satu pengukuran tubuh manusia yang mengukur jarak
maksimum dari vertex (puncak kepala) sampai telapak kaki (Wiyono et al.,
2011). Tinggi badan bisa juga diartikan jarak yang diambil dari vertex (puncak
kepala) menuju lantai dengan posisi anatomis dan kepala sejajar dataran
frankfurt (Zeybek et al, 2008). Sedangkan menurut Snell dalam
Ismurrizal (2011), tinggi badan didefinisikan sebagai hasil pengukuran maksimum
panjang tulang-tulang dalam tubuh yang membentuk poros tubuh (The Body Axis),
yang diukur dari titik tertinggi kepala yang disebut vertex (puncak
kepala) ke titik terendah dari
tulang kalkaneus (tuberositas calcanei) yang disebut heel (2).
Tinggi badan memberikan gambaran
fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi
badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan
dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita.
Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur),
atau juga indeks BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena
perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan
gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun (Depkes RI, 2004) (3)
Berat badan dan tinggi badan adalah
salah satu parameter penting untuk
menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan
status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indicator status
gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994) (3).
Stunting
adalah
perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama. Stunting pada
usia balita biasanya kurang disadari karena perbedaan dengan anak yang tinggi
badannya normal tidak terlalu tampak. Stunting baru disadari setelah
anak memasuki usia pubertas atau remaja. Hal ini merugikan karena semakin
terlambat disadari, semakin sulit mengatasi stunting (4).
Stunting
(tubuh
pendek) merupakan keadaan dimana tubuh yang sangat pendek hingga melampaui
defisi -2 standar deviasi (SD) dibawah median panjang atau tinggi yang menjadi
referensi internasional. Prevalensi stunting (TB/U) lebih tinggi
dibandingkan dengan prevalensi kejadian underweight atau gizi buruk
(BB/U) (19,6 %) dan prevalensi kejadian wasting atau kurus (BB/TB) (5,3
%). Pada anak balita di Indonesia (5,6).
Jadi, stunting adalah
gangguan pertumbuhan fisik berupa penurunan kecepatan pertumbuhan dalam
perkembangan manusia yang merupakan dampak utama dari kekurangan gizi atau
ketidakseimbangan faktor-faktor pertumbuhan baik faktor internal maupun faktor
eksternal. Stunting dapat ditentukan dengan indeks tinggi badan menurut
umur (TB/U) dibandingkan dengan baku rujukan WHO child growth standard.
Skor Z TB/U kurang dari -2 SD mengindikasikan anak mengalami stunting yang
merupakan dampak dari ketidakmampuan anak dalam mencapai pertumbuhan linear
potensialnya (7).
Gambar
1. Kecenderungan prevalensi status gizi TB/U <-2 SD menurut provinsi,
Indonesia 2007, 2010, dan 2013
Berdasarkan
data World Health Statistics 2012, didapatkan bahwa prevalensi stunting
di dunia sebesar 26.7%. Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013 menyebutkan masalah stunting/pendek pada balita masih cukup serius,
angka nasional 37,2 %, bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi
(>50%) di Nusa Tenggara Timur. Hasil ini memperlihatkan bahwa lebih dari
sepertiga anak balita Indonesia adalah stunting.
Terdapat 20 provinsi diatas prevalensi nasional dengan urutan dari prevalensi
tertinggi sampai terendah, yaitu: (1) Nusa Tenggara Timur, (2) Sulawesi Barat,
(3) Nusa Tenggara Barat, (4) Papua Barat, (5) Kalimantan Selatan, (6) Lampung,
(7) Sulawesi Tenggara, (8) Sumatera Utara, (9) Aceh, (10) Kalimantan Tengah,
(11) Maluku Utara, (12) Sulawesi Tengah, (13) Sulawesi Selatan, (14) Maluku,
(15) Papua, (16) Bengkulu, (17) Sumatera Barat, (18) Gorontalo, (19) Kalimantan
Barat dan (20) Jambi (6,8).
Sedangkan
menurut hasil riset kesehatan dasar provinsi Kalimantan Selatan tahun 2007,
tabel menyajikan angka prevalensi balita
menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Indikator TB/U
menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, artinya muncul sebagai akibat
dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang
tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan
sanitasi yang kurang baik. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi
selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek (9).
Gambar
2. Prevalensi balita menurut status gizi (TB/U)* dan Kabupaten/Kota di Provinsi
Kalimantan Selatan, Riskesdas 2007.
Prevalensi
masalah kependekan pada balita di Provinsi Kalimantan Selatan masih tinggi
yaitu sebesar 41,8% (27,8-50,4%). Sebagian besar kabupaten/kota (8 dari 13)
yang memiliki prevalensi masalah kependekan di atas angka provinsi adalah Tanah
laut, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu
Sungai Utara, Tabalong, dan Balangan (9).
Dampak
yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting diantaranya anak stunting
lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih
berat menjelang usia dua tahun. Akibat jangka panjang yang ditimbulkan adalah
terganggunya perkembangan fisik, mental, kognitif dan intelektual sehingga anak
tidak mampu belajar secara optimal. Anak stunting mempunyai kemampuan
kognitif yang rendah dan meningkatkan risiko kematian. Anak stunting pada
usia lima tahun cenderung tidak dapat diperbaiki sehingga akan berlanjut sampai
dewasa. Wanita dewasa yang stunting berisiko melahirkan anak dengan BBLR
(7).
Dari
penelitian yang dilakukan oleh Fitrah Emawati, et al tahun 2014 menyebutkan
bahwa hasil penelitian yang dihimpun oleh World Bank 2006 menunjukkan bahwa dampak
stunting pada balita mengakibatkan penurunan IQ usia sekolah sebesar
10-15% (6,7).
Gangguan
pertumbuhan linier (stunting) akan berdampak terhadap pertumbuhan,
perkembangan, kesehatan, dan produktivitas. Masalah gizi kurang jika tidak
ditangani akan menimbulkan masalah yang lebih besar, bangsa Indonesia dapat
mengalami lost generation (11).
Selain itu dampak
stunting tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya, tetapi
juga berdampak terhadap roda perekonomian dan pembangunan bangsa. Hal ini
karena sumber daya manusia stunting memiliki kualitas lebih rendah
dibandingkan dengan sumber daya manusia normal (12).
Penyebab
stunting sangat beragam dan kompleks, namun secara umum dikategorikan
menjadi tiga faktor yaitu faktor dasar (basic factors) seperti ekonomi,
sosial,dan politik, faktor yang mendasari (underlying factors) seperti
faktor keluarga, pelayanan kesehatan,
dan faktor dekat (immediate factors) seperti faktor diet dan kesehatan.
Faktor keluarga seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi sosial ekonomi,
dan jumlah anak dalam keluarga merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Kondisi
lingkungan di dalam maupun di sekitar rumah juga dapat mempengaruhi terjadinya stunting.
Lingkungan yang kotor dan banyak polusi menyebabkan anak mudah sakit sehingga
dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya (5,12).
Dampak
yang ditimbulkan jika anak mengalami stunting diantaranya anak stunting
lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih
berat menjelang usia dua tahun. Akibat jangka panjang yang ditimbulkan adalah
terganggunya perkembangan fisik, mental, kognitif dan intelektual sehingga anak
tidak mampu belajar secara optimal. Anak stunting mempunyai kemampuan
kognitif yang rendah dan meningkatkan risiko kematian. Anak stunting pada
usia lima tahun cenderung tidak dapat diperbaiki sehingga akan berlanjut sampai
dewasa. Wanita dewasa yang stunting berisiko melahirkan anak dengan BBLR
(7,12).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab
dari level individu, rumah tangga, dan provinsi terhadap kejadian balita pendek
di Indonesia.
Pengumpulan
data menggunakan data sekunder dan data tersier. Data sekunder bersumber dari
data Riskesdas 2010. Sedangkan data tersier didapat dari laporan Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM), serta data kemiskinan dari Biro Pusat
Statistik. Sampel minimal yang harus dipenuhi dihitung dengan rumus uji
hipotesis beda 2 proporsi. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Dengan
menggunakan confidence level 95%, absolute precision required 5%,
estimasi balita stunting 36,8%, efek desain 2, maka jumlah sampel
menjadi 4364 balita. Confidence level 95% yang berarti
peneliti yakin bahwa 95% penduga sample berada dalam selang interval untuk
parameter populasi.
Variabel
terikat balita pendek dibagi 2 kategori: balita pendek bila < - 2 SD dan
tidak pendek bila ≥ 2 SD. Masing-masing variabel bebas dibagi 2 kategori. Pada
level individu/balita ada 2 variabel, yaitu ‘konsumsi energi’ dan ‘penyakit
infeksi’. Konsumsi energi dikatakan ‘cukup’ bila Angka Kecukupan Gizi yang
dianjurkan (AKG) ≥ 100 % dan ‘kurang’ bila AKG < 100 %. Penyakit infeksi di
sini hanya malaria, dengan pilihan isi: ‘pernah’ dan ‘tidak pernah’ sakit
malaria dalam satu tahun terakhir. Pada level rumah tangga, ada variabel akses
pelayanan kesehatan, sanitasi, status ekonomi, jumlah anggota rumah tangga
(ART), tingkat pendidikan, status pangan rumah tangga (RT), pol asuh, dan
riwayat stunted ibu. Akses pelayanan kesehatan dibagi menjadi
‘terjangkau’ dan ‘tidak terjangkau’. Sanitasi dikatakan ‘baik’ bila ‘seluruh
komposit baik’ dan ‘kurang’ bila ‘salah satu komposit tidak baik’. Status
ekonomi ‘rendah’ bila ≤ Rp 111.285 dan ‘cukup’ bila > Rp 111.285. Jumlah ART
‘cukup’ bila ≤ 4 orang dan ‘banyak’ bila > 4 orang. Tingkat pendidikan ibu
‘cukup’ bila tamat SLTP ke atas dan ‘kurang’ bila tidak tamat SLTP ke bawah.
Status pangan RT ‘cukup’ bila %tase kecukupan energi total ART ≥ 90% dan
‘defisit’ bila %tase kecukupan energi total ART < 90%.
Sedangkan
untuk riwayat stunted ibu ‘cukup’ bila tinggi badan (TB) ibu ≥ nilai
rata-rata dan ‘kurang’ bila TB ibu < nilai rata-rata. Pada level provinsi,
ada variabel IPKM, IPM, status rawan pangan, dan kemiskinan. IPKM ‘cukup’ bila
≥ angka nasional dan ‘kurang’ bila < angka nasional. IPM ‘cukup’ bila ≥
70,59 dan ‘kurang’ bila < 70,59. Kemiskinan dikatakan ‘rendah’ bila <
rata-rata nasional dan ‘cukup’ bila ≥ rata-rata nasional (13).
Untuk
mengetahui apakah setiap level mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek,
maka digunakan analisis multilevel
dan karena semua variabel dikompositkan menjadi 2 kategori, maka digunakan
analisis multilevel regresi logistic binary (13).
Menurut
Hosmer dan Lemeshow, 1989 analisis regresi logistik adalah suatu metode
statistik yang digunakan untuk mendeskripsikan hubungan antara variabel respon
(variabel tak bebas) yang terdiri dari dua kategori (dikotomik) atau lebih
(polikotomik) dengan variabel penjelas (variabel bebas) yang berskala kategorik
atau pun numerik. Kategori biner variabel respon antara lain menyatakan
kejadian ‘sukses’ (Y=1) dan kejadian ‘gagal’ (Y=0), dan variabel respon
diasumsikan berdistribusi Bernuolli. Model regresi logistik menggunakan
transformasi logit. Pada model ini, yang diregresikan adalah peluang variabel respon
bernilai ‘sukses’ (Y=1) (13).
Kelebihan
analisis multilevel regresi logistic binary adalah dapat melihat faktor
penyebab masalah berdasarkan tingkat atau level dalam satu analisis. Sementara
dalam analisis multivariat lain, misalnya regresi logistik atau linier, tidak
bisa menganalisis berdasarkan tingkatan/level. Contohnya, penyebab pada tingkat
rumah tangga dan tingkat individu/balita dianggap satu level, terhadap kejadian
balita pendek. Padahal konteks penyebab pada tingkat rumah tangga dan
individu/balita merupakan faktor yang berbeda tingkatan/level. Dalam analisis
digunakan program/software supermix dan SPSS versi 17 (14).
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Balita
Karakteristik balita dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu balita
pendek, konsumsi energi, dan penyakit infeksi malaria. Untuk kategori balita
pendek tebagi menjadi tidak pendek dan pendek, kategori konsumsi energi tegbagi
menjadi diatas rata-rata dan dibawah rata-rata, dan kategori penyakit infeksi
(malaria) terbagi menjadi tidak ada dan ada.
Pada tabel 1 didapatkan bahwa proporsi balita pendek berjumlah
4403 atau sebesar 44,5%. Sedangkan konsumsi energi balita jika dilihat pada
tabel 1 tergolong diatas rata-rata yaitu berjumlah 5998 atau sebesar 60,6% dan
yang tergolong dibawah rata-rata berjumlah 3899 atau sebesar 39,4%. Untuk
kategori penyakit infeksi (malaria), sebagian besar sampel dalam kondisi tidak
terdapat penyakit infeksi (malaria) yaitu berjumlah 9639 atau sebesar 97,4%,
sedangkan hanya terdapat sebagian kecil saja yang menderita penyakit infeksi
(malaria) yaitu berjumlah 258 atau sebsesar 2,6%.
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Rumah Tangga
Karakteristik rumah tangga dibagi menjadi 7 (tujuh) kategori yaitu
konsumsi energi (diatas rata-rata dan dibawah rata-rata), pola asuh (baik dan
kurang baik), status ekonomi (cukup dan kurang), pendidikan ibu (cukup dan
kurang), ibu pendek (tidak pendek dan pendek), status akses pelayanan kesehatan
(baik dan kurang baik), serta keadaan sanitasi (baik dan kurang baik).
Pada tabel 2 didapatkan bahwa konsumsi energi rumah tangga berada
dalam posisi diatas rata-rata kecukupan yaitu sebesar 54,9%, namun masih ada
yang berada dibawah rata-rata yaitu sebesar 45,1%.
Sedangkan pada kategori pola asuh, sebagian besar rumah tangga
melakukan pola asuh yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan karena pada tabel
dapat dilihat bahwa rumah tangga yang menjalani pola asuh baik hanya sebesar
1,9% saja, dan sisanya menjalani pola asuh yang kurang baik yaitu sebesar
98,1%. Pola asuh makan merupakan
praktek-praktek pengasuhan yang diterapkan oleh ibu kepada anak yang berkaitan
dengan pemberian makan (Karyadi 1985). Pola asuh makan mempunyai peranan yang
sangat besar dalam asupan gizi anak. Praktek pemberian makan yang dapat
mempengaruhi konsumsi makanan terdiri
dari: (1) pemberian makan yang sesuai umur dan kemampuan anak, (2) kepekaan ibu atau pengasuh mengetahui waktu
makan anak, (3) upaya menumbuhkan nafsu
makan anak, (4) menciptakan situasi makan yang baik seperti memberikan rasa nyaman, (5) kuantitas
dan kualitas makanan serta (6) cara
penyajian dan pemberian makan yang benar (WHO 1998, diacu dalam Anugra 2004) (15).
Untuk status ekonomi rumah tangga, sebagian besar rumah tangga
memiliki status ekonomi yang cukup yaitu sebesar 86,6% dan sisanya sebanyak
13,4% rumah tangga memiliki status ekonomi yang kurang.
Berdasarkan tabel 2, pendidikan ibu sebagian besar ibu memiliki
pendidikan yang cukup yaitu sejumlah 57,3% dan hanya 42,7% yang berada pada
tingkat pendidikan kurang.
Sedangkan untuk %tase ibu pendek ternyata sebagian besar ibu
memiliki tinggi pada yang pendek yaitu sebesar 5139 atau 51,9% da hanya 48,1%
ibu yang memiliki tinggi badan tidak pendek.
Pada tabel tersebut juga didapatkan bahwa status akses pelayanan
kesehatan sudah termasuk dalam kategori baik yaitu sebesar 80,7% dan hanya
19,3% saja yang berada dalam status akses pelayanan kurang baik.
Sedangkan sanitasi di tempat tinggal sampel sebagian besar kurang
baik yaitu sebesar 86,8% dan yang termasuk baik hanya 13,2% saja.
Distribusi Sampel Berdasarkan Karakteristik Provinsi
Karakteristik provinsi memiliki 3 (tiga) kategori yaitu IPKM
(cukup dan kurang), IPM (cukup dan kurang), serta %tase keluarga miskin
(dibawah rata-rata dan diatas rata-rata). Berdasarkan tabel 3 distribusi sampel
berdasarkan karakteristik provinsi bahwa sebanyak 29,3% sampel tinggak di
provinsi dengan IPKM yang cukup, sedangkan sisanya sebanyak 70,7% sampel
tinggal di provinsi dengan IPKM yang masih kurang.
Hal yang sama juga bila dilihat berdasarkan status IPM bahwa
sampel lebih banyak tinggal pada daerah dengan status IPM kurang yaitu sebesar
63,2%, sedangkan yang tinggal di provinsi dengan IPM yang cukup sedikit lebih
rendah yaitu sebesar 36,8%.
Sedangkan untuk %tase keluarga miskin sebagian besar sampel
tinggal di provinsi dengan %tase keluarga miskin diatas jumlah rata-rata
nasional yaitu sebesar 52,5% dan yang tinggal di provinsi dengan %tase keluarga
miskin dibawah rata-rata nasional sebesar 47,5%.
Peran dan Kontribusi Level Individu, Rumah Tangga dan Provinsi
terhadap Kejadian Stunted pada Balita
Untuk
melihat apakah setiap level berperan terahadap kejadian balita pendek diketahui
dengan membandingkan nilai varians di setiap level dari setiap model. Hasil
analisis menunjukkan, pada level rumah tangga nilai varians pada model 1 (null
model, yaitu model hanya ada variabel stunted) menurun dibandingkan
dengan model 2 (0,0248 menurun menjadi 0,0230) pada level 2; begitu pula pada
level 3 menurun dari 0,0981 menjadi 0,0838. Artinya, peran level balita cukup
bervariasi terhadap kejadian balita pendek.
Tahap
selanjutnya adalah menilai apakah rumah tangga berperan terhadap kejadian
balita pendek. Hal itu dilihat dari penurunan nilai varians pada model 1
terhadap varians model 3. Hasil analisis diatas tampak, varians pada level 2
dan model 3 lebih kecil dari model 1 (0,0171 dan 0,0248); pada level 3 dari
model 1 dibandingkan model 3, nilainya turun (dari 0,0981 menjadi 0,0706).
Artinya, level rumah tangga mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek.
Pada level rumah tangga analisis ini menunjukkan bahwa konsumsi energi rumah
tangga dibawah rata-rata, status ekonomi rumah tangga dan keadaan sanitasi dan
pola asuh kurang, riwayat ibu pendek, serta tingkat pendidikan ibu yang kurang
merupakan penyebab terjadinya anak.
Untuk
melihat peran dari level provinsi terhadap kejadian balita pendek, dilihat dari
perubahan nilai varians model 1 terhadap model 4. Hasil analisis diatas tampak,
varians level 2 pada model 4 dibandingkan dengan model 1, nilainya turun (dari
0,0248 menjadi 0,0171), dan pada level 3 menurun dari 0,0981 menjadi 0,0576.
Artinya, level provinsi mempunyai peran terhadap kejadian balita pendek.
Level
provinsi mempunyai peran terbesar terhadap kejadian balita pendek karena nilai
ICC 51,9 %. Artinya, 51,9% terjadi pada level provinsi. Pada variabel level
provinsi, hanya kemiskinan. Dengan kata lain, sebanyak 51,9% kejadian balita
pendek terjadi karena adanya kemiskinan, kemudian 34,9% disebabkan oleh faktor
balita itu sendiri dan 13,2% karena faktor rumah tangga.
Sumbangan
provinsi terhadap kejadian balita pendek tertinggi, yakni 51,9%, dibandingkan
dengan peran faktor balita dan rumah tangga. Walaupun variabel di tingkat
provinsi hanya status kemiskinan, faktor penentu kemiskinan sendiri banyak
sekali faktor penyebabnya yang dalam analisis ini tidak diidentifikasi.
Perbaikan ekonomi tidak hanya meningkatkan anggaran (budget), tetapi
faktor-faktor lain penentu kemiskinan juga perlu diatasi, agar perbaikan
ekonomi di tingkat provinsi mempunyai peran besar.
Fit Model pada Level Individu, Rumah Tangga dan Provinsi terhadap
Kejadian Stunted pada Balita
Distribusi
fit model peran semua level terhadap kejadian balita pendek dapat dilihat pada
Tabel 5. Dalam tabel tersebut terlihat bahwa seluruh variabel, baik yang
terdapat pada level balita, rumah tangga, dan provinsi, berperan secara
bermakna terhadap kejadian balita pendek. Artinya, semua variabel yang ada
dalam Tabel 5 tidak ada yang dikeluarkan dari
model.
Untuk
melihat kontribusi masing-masing variabel terhadap kejadian balita pendek,
dilihat nilai AFE (attributable fraction exposure), yakni gambaran
proporsi suatu kejadian dalam suatu populasi yang disebabkan faktor risiko.
Besarnya Penurunan Kejadian Stunted pada Balita Bila Faktor Risiko
Dihilangkan
Dalam
Tabel 6 digambarkan besarnya masing-masing
AFE. Dalam Tabel 6 terlihat bahwa ada 1 variabel level individu yang
berpengaruh pada kejadian balita pendek, yaitu konsumsi energi balita. Besarnya
kontribusi terhadap kejadian stunted sebesar 10%. Pada level rumah
tangga, ada 6 variabel yang berkontribusi terhadap kejadian balita pendek,
yakni konsumsi energi rumah tangga sebesar 17%, status ekonomi rumah tangga 19%,
keadaan sanitasi sebesar 12%, pola asuh sebesar 27%, riwayat ibu pendek 34% dan
tingkat pendidikan ibu berkontribusi sebesar 24%.
Pada
level provinsi, variabel yang berkontribusi hanya %tase jumlah keluarga miskin
pada provinsi, besarnya kontribusi sebesar 14%. Hasil penghitungan penurunan
proporsi di level individu tampak, bila konsumsi energi balita dapat tercukupi,
maka prevalensi balita pendek dapat turun dari proporsi semula sebesar 44,5
menjadi 42,50%. Pada level rumah tangga, bila kebutuhan energi dalam rumah
tangga dapat tercukupi, maka kasus balita pendek akan turun dari 44,5 menjadi 40,80%.
Banyak sektor sangat terkait dengan status ekonomi rumah tangga, begitu pula
dengan kejadian balita pendek. Bila kita dapat mengatasi kemiskinan dalam rumah
tangga, kejadian balita pendek dapat menurun dari 44,5 menjadi 43,15%. Bila
sanitasi rumah tangga diperbaiki, proporsi balita pendek dapat turun dari 44,5
menjadi 39,83%. Bila ibu memberikan pola pengasuhan yang lebih baik terhadap
anak balitanya, balita pendek dapat menurun dari 44,5 menjadi 32,63%. Bila
ibu-ibu balita tidak pendek, proporsi balita pendek dapat menurun dari 44,5
menjadi 35,8%. Dan bila tingkat pendidikan ibu dapat diperbaiki ke tingkat yang
lebih baik, maka kejadian balita pendek dapat diturunkan dari 44,5 menjadi 39,42%.
Pada level provinsi, bila kemiskinan di tingkat provinsi dapat diperbaiki, maka
proporsi balita pendek akan turun dari 44,5 menjadi 41,4%.
B. Solusi dan Rekomendasi
Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Fauzi Arasj (2014) bahwa pemberian dadih melalui
PMT (200 Kkal dan 5-7 gram protein per porsi) yang mengandung BAL antara 1,3
s/d 1,7 x 107 CFU/Gram sebanyak 6,75 gram/hari selama 3 bulan terbukti memberi
dampak lebih baik terhadap perubahan status gizi anak pendek umur 1-4 tahun berdasar
nilai skor-z TB/U dibandingkan dengan kelompok tanpa dadih. Dadih merupakan
salah satu makanan tradisional Sumatera Barat yang dibuat dari fermentasi alami
susu kerbau dibuat berdasarkan industri skala rumah tangga serta dijual secara
umum di pekan-pekan, warung dan restoran sebagai salah satu makanan tradisional
yang sejak lama sudah menjadi makanan sehari hari bagi masyarakat di Sumatera
Barat, terutama untuk kelompok orang dewasa karena dipercaya dapat meningkat
stamina tubuh (16).
Jadi,
dengan adanya pemberian dadih ini diharapkan bisa menurunkan angka kejadian balita
pendek di Indonesia.
Selain itu, pihak pemerintah juga perlu memberikan pemahaman kepada kepala keluarga mengenai dampak stunted,
khususnya bagi pasangan usia subur pada saat ibu mengandung agar dapat
memeriksa kandungan di posyandu atau puskesmas supaya berat badan janin dapat
dikontrol, sehingga tidak melahirkan anak yang BBLR. Serta dapat memberikan
penyuluhan tentang pentingnya ASI Eksklusif untuk perkembangan bayi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa level provinsi mempunyai peran
kontribusi tertinggi, yaitu sebesar 51,9%, kemudian level individu/balita sebesar
34,9%, dan level rumah tangga sebesar 13,2% terhadap terjadinya balita pendek.
Proporsi balita pendek yang ditemukan dalam analisis ini sebesar 44,5% dapat
diturunkan, apabila konsumsi energi balita diperbaiki hingga cukup, maka
proporsi balita pendek turun menjadi 42,5%. Selain itu bisa juga dengan
memperbaiki konsumsi energi rumah tangga, maka proporsi balita pendek turun
menjadi 40,8%.
Proporsi
balita pendek dapat diturunkan juga apabila status ekonomi rumah tangga
diperbaiki, maka proporsi balita pendek turun menjadi 43,2%. Serta memperbaiki
pola asuh dalam rumah tangga, maka proporsi balita pendek turun menjadi 32,6%.
Bila ibu-ibu balita tidak pendek, maka proporsi balita pendek turun menjadi
35,8%. Bila tingkat pendidikan ibu diperbaiki, maka proporsi balita pendek
turun menjadi 39,4%. Bila kemiskinan di tingkat provinsi diperbaiki, maka
proporsi balita pendek turun menjadi 41,4%. Hal-hal inilah yang dapat
menurunkan proporsi balita pendek di Inonesia.
B. Saran
Dalam
strategi penanganan penurunan proporsi balita pendek penanganan hendaknya lebih
diutamakan pada adanya peran dilevel provinsi, kemudian rumah tangga, dan balitanya
sendiri. Di level provinsi, perlu adanya upaya perbaikan status kemiskinan,
misalnya antara lain menciptakan lapangan kerja bagi yang belum bekerja. Di
level rumah tangga, prioritas utama hendaknya memperbaiki pola asuh anak,
kemudian memperbaiki tinggi badan ibu-ibu pada generasi berikutnya,
meningkatkan tingkat pendidikan ibu, memperbaiki keadaan sanitasi, dan
meningkatkan ekonomi rumah tangga. Di level individu/balita, upaya dilakukan
dengan meningkatkan dan memperbaiki konsumsi energi anak balita. Perlu
kerjasama lintas sektor untuk memperbaiki variabel-variabel terkait, agar proporsi balita pendek turun.
Selain
itu juga perlu
ditingkatkan penyuluhan tentang makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi
serta memenuhi syarat gizi seimbang, pentingnya sanitasi dan higiene yang baik,
dan cara memantau pertumbuhan anak secara berkala melalui posyandu.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Eka
Riyanti & Lu’ayin. The correlation
between nutrient status with growth in toddler age in pekuncen village kroya, cilacap. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Keperawatan, 2008. 4 (2) : 63-71.
2.
Julius
Panero & Martin Zelnik. Dimensi manusia dan ruang interior. Jakarta:
Erlangga, 2003.
3.
Apriliia Nur Baety et al. Penilaian
status gizi pada balita umur 13-60 bulan di desa Bogares Kidul kecamatan Pangkah
kabupaten Tegal tahun 2009.
4.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan,
2010. 1 (1) : 42-47.
5.
Aryu
Candra. Hubungan underlying factors dengan
kejadian stunting pada
anak 1-2 th. Journal of Nutrition and
Health, 2013. 1 (1) : 1-12.
6.
World
Health Statistics, 2012.
7.
Dewi.
Kekurangan asupan besi dan seng sebagai
faktor penyebab stunting pada anak. Jurnal Profesi, 2013. 10 (1) : 57-61.
8.
Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan
Dasar, 2013.
9.
Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan
Dasar Provinsi Kalimantan Selatan, 2007.
10. Wellem E. P., et
al. Hubungan pengetahuan orang tua tentang gizi dengan stunting pada
anak usia 4-5 tahun di TK Malaekat Pelindung Manado. Jurnal Keperawatan, 2013.
1 (1) : 1-6.
11. Bunga Ch Rosha, et al. Analisis
determinan stunting anak 0-23 bulan pada daerah miskin di Jawa Tengah
dan Jawa Timur. Jurnal Penelitian Gizi Makan, 2012. 35 (1) : 34-41.
12. Zilda
Oktarina, et al. Faktor risiko stunting pada balita
(24-59 bulan) di Sumatera. Jurnal Gizi dan Pangan, 2013. 8 (3) : 175-180.
13. Sopiyudin Dahlan. Statistic
untuk kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika.
14. Nia Sari &
Ratna Wardani. Pengolahan dan analisa data statistic dengan SPSS. Yogyakarta:
CV Budi Utama, 2015.
15. Dina Rahmawati. Status gizi dan perkembangan anak di taman
pendidikan karakter semai benih bangsasutera alam, desa sukamantri, kecamatan
tamansari, bogor. Skripsi. Program Studi Gizi Masyarakat Dan Sumberdaya
Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, 2006.
16. Fauzi Arasj. Pengaruh pemberian dadih (susu kerbau
terfermentasi) melalui makanan tambahan terhadap status gizi, kejadian diare
dan ispa anak pendek (stunted) usia 1-4 tahun. studi dilakukan di
kenagarian Kototangah, kecamatan Tilatang Kamang. Jurnal Gizi, 2014. 1 (1).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar